Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Kisah Nabi Luth as Dan Kaum yang Mencintai Sesama Jenis

Kisah Nabi Luth as dan Kaum yang Mencintai Sesama Jenis. Pada zaman dahulu ada suatu penduduk yang bernama negeri Sodom yang menganggap bahwa berhala yang mereka sembah adalah Tuhan yang memberi mereka rezeki dan kehidupan.


Hal ini membuat tingkah laku mereka menjadi tidak wajar seperti manusia pada umumnya. Terlebih kebiasaan mereka untuk menyukai sesama jenis. Laki-laki menyukai laki-laki dan perempuan menyukai perempuan.

Maka di negeri itulah Allah SWT menurunkan Nabi Luth as sebagai utusaNya dan untuk mengajak orang-orang sesat itu ke jalan kebaikan.

Nabi Luth as berdakwah menyadarkan kaum Sodom untuk meninggalkan berhala dan segera menyembah Allah SWT. Juga harus meninggalkan kebiasaan mereka yang menyukai sesama jenis.

Tapi bukan sambutan baik yang diterima Nabi Luth as. Bahkan mereka yang mengikuti ajakan Nabi Luth as, dianiaya. Namun Nabi Luth as berusaha untuk bersabar menerima perlakuan kaum Sodom.

Kaum Sodom Membenci Nabi Luth as

Berbagai macam ancaman dan hinaan diterima Nabi Luth as. Kaum Sodom semakin membencinya namun Nabi Luth as tak pernah surut tekadnya untuk terus menerus berdakwah.

"Kalian ancam apapun, aku akan terus berdakwah. Karena Allah SWT mengutusku untuk menyadarkan kalian yang hidup dalam kesesatan, untuk mengajak ke jalan Allah SWT."

Yang paling membuat Nabi Luth as bersedih adalah perilaku mereka yang menyukai sesama jenis. Hingga Nabi Luth as mencari cara untuk berdakwah.

Pada suatu hari Nabi Luth as kedatangan tamu dua orang pemuda tampan rupawan. Nabi Luth as merasa risau tentang hal ini karena kondisi negerinya sedang kacau.

"Wahai saudara-saudaraku, bukan aku tidak senang menerima kedatangan kalian. Tapi negeri Sodom saat ini kondisinya sedang kurang baik. Sebaiknya kalian segera pergi dari negeri ini sesbelum terjadi sesuatu pada diri kalian, "tutur Nabi Luth as.

Diam-diam istri Nabi Luth as melaporkan kedatangan kedua tamu tampan itu kepada pemuka kaum Sodom. Sontak saja, kaum Sodom segera mengepung rumah Nabi Luth as.

"Wahai Luth, Engkau tidak perlu cemas. Kami berdua ini sebenarnya adalah malaikat yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan kabar kepadamu," kata pemuda tampan itu yang ternyata malaikat.

Kedua pemuda itu berpesan kepada Nabi Luth as agar segera pergi dari negeri Sodom bersama pengikutnya, karena Allah SWT akan segera memberikan azab kepada penduduk Sodom sebelum waktu subuh.


Nabi Luth as bersama pengikutnya bergegas meninggalkan negeri Sodom. Tak lama kemudian, turunlah hujan batu dari langit disertai api yang menimpa orang-orang di negeri Sodom.

Negeri Sodom yang dihuni oleh manusia penyuka sesama jenis, dalam sekejap hancur lebur dan beganti kobaran api serta batu-batuan yang panas sekali.

Itulah hukuman bagi kaum yang berbuat maksiat. Allah SWT itu Maha Kuasa atas segala sesuatu yang dikehendakiNya.

Kisah Adzan Terakhir Bilal Bin Rabbah

Semenjak Rasulullah SAW wafat, sahabat Bilal bin Rabbah menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.

Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata, "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."


Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan sebab ditinggal wafat oleh Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia bersama rombongan pasukan Fath Islamy berangkat menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Sudah lama Bilal tak mengunjungi Madinah, hingga sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?"

Bilal pun bangun terperanjat, segera ia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, kepada Sang Kekasih.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua itupun memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami."

Ketika itu, Umar bin Khattab yang saat itu telah menjadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan tersebut, dan beliaupun juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.

Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun - tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata 'Asyhadu an laa ilaha illallah', seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan 'Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah', Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya.

Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang telah menerbitkan rasa kerinduan penduduk Madinah kepada Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Dan pada saat itu, Kota Madinah banjir oleh air mata kerinduan kepada Rasulullah. Allaahumma Sholli 'Alaa Muhammad.

YUK SIMAK 3 Ramalan Rasulullah SAW Tentang Akhir Zaman yang KINI Jadi Kenyataan

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengeluarkan nasehat, petunjuk atau ramalan berdasarkan pendapat pribadinya. Hal-hal yang dibicarakan Rasulullah SAW mutlak sepenuhnya dari Allah SWT. Dengan kata lain, hal-hal yang dikatakan Nabi Muhammad SAW pasti akan terjadi dan tidak akan mungkin meleset.


Dahulu, beliau sering menceritakan kepada para sahabat dan kaum muslim tentang tanda-tanda akhir zaman, dan diceritakan banyak tanda dan peristiwa yang terjadi sebelum datangnya kiamat.

Jika kita perhatikan dengan teliti dan seksama perkataan Rasulullah SAW tentang akhir zaman, ternyata banyak ramalan Rasulullah SAW yang sudah jadi kenyataan di zaman sekarang ini.

Berikut rangkaian dari berbagai sumber beberapa hadist yang berisi ramalan-ramalan Rasulullah SAW tentang akhir zaman yang saat sekarang ini sudah mulai terjadi.

1. Ketika Islam tinggal namanya, Al-Quran tinggal suaranya, dan masjid banyak yang megah tetapi kosong.

Dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: “Telah hampir tiba suatu zaman, di mana tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada lagi dari Al-Quran kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong daripada hidayah, Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah langit. Daripada mereka keluar fitnah dan kepada mereka juga fitnah itu akan kembali.” (HR Al-Baihaqi)

Hadist di atas menjelaskan bahwa suatu saat akan datang zaman di mana Islam hanya tinggal namanya saja. Pengertiannya adalah banyak orang yang mengaku-ngaku bergama Islam, tapi hatinya bukan Islam.

Mereka tidak pernah sholat, puasa, zakat, tetapi malah rajin berbuat dosa. Ketika mereka ditanya apa agamanya, mereka menjawab, “Agamaku Islam.”

Kemudian Al-Quran hanya tinggal tulisan saja. Pengertiannya bahwa Al-Quran hanya banyak dibaca saja, tidak dipahami, tidak dimaknai, dan tidak diamalkan. Mereka tidak menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup sehari-hari karena kalimat-kalimat Al-Quran mereka jadikan sebagai hiasan belaka tanpa mereka pahami tentang isi Al-Quran. Semua perilaku dan ibadah mereka banyak yang bertentangan dengan perintah dalam Al-Quran.

Masjid zaman sekarang banyak yang megah, mewah, bertingkat, dan dihias dengan ornamen-ornamen yang indah, tetapi sangat sedikit orang yang mau sholat di dalamnya. Mereka hanya menjadikan masjid sebagai hiasan saja serta membanggakan diri mereka sendiri. Ketika mendengar suara adzan, mereka seperti orang tuli yang pura-pura tidak tahu akan suara panggilan tersebut, mereka tetap bersenang-senang padahal di dekatnya adalah masjid.

Di akhir zaman akan datang orang-orang yang mengaku sebagai ahli agama, ahli beribadah, dan bangga menyandang gelar sebagai pemuka agama. Padahal hati mereka dipenuhi dengan kemusyrikan dan membangkang pada perintah Allah demi keuntungannya sendiri.

Terlebih lagi mereka akan mengiring banyak orang ke dalam jalan yang sesat yang mereka ajarkan, seolah-olah mereka mengajarkan hal yang benar padahal ada sebagian dari ajaran mereka yang menyesatkan. Mereka adalah golongan orang paling jahat di langit dan bahkan lebih jahat dibandingkan dengan orang kafir karena telah menyesatkan banyak orang.

2. Agama dan ayat-ayat Allah dijual untuk mendapatkan keuntungan dunia

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluar pada akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka berpakaian di hadapan orang lain dengan pakaian yang dibuat daripada kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang ramai, dan perkataan mereka lebih manis daripada gula. Padahal hati mereka adalah hati serigala. Allah SWT berfirman kepada merea, “Apakah kamu tertipu dengan kelembutanKu? Ataukah kamu terlalu berani berbohong kepadaKu? Demi kebesaranKu, aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim (cendekiawan) pun akan menjadi bingung.” (HR Tirmzi)

Pada akhir zaman, akan banyak ahli-ahli agama yang menjual ayat-ayat Allah untuk mendapatkan keuntungan pribadi diri mereka sendiri. Mereka menjadikan agama dan ayat-ayat Al-Quran sebagai mata pencaharian. Bahkan sebagian dari mereka ada yang mematok harga dengan nilai yang sangat mahal.

Perkataan mereka begitu manis, tetapi perilaku mereka banyak bertentangan dengan perkataannya. Mereka hanya mau berbicara atau menyampaikan ayat-ayat Allah kepada orang yang mau membayar saja, sedang kepada orang yang tidak mampu, mereka enggan untuk berbicara.

Mereka bersikap di depan khalayak seperti orang yang terlepas dari duniawi. Padahal hati mereka begitu mencintai duniawi dan takut mati.

3. Umat Islam akan semakin banyak secara kuantitas, tapi kualitas semakin menipis.

Dari Tsuban r.a., beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang kelaparan yang mengerumuni bekas hidangan mereka” Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah karena kami sedikit pada hari itu?” Nabi SAW menjawab “Bahkan kamu pada hari itu terlalu ramai, tetapi kamu umpama buih pada masa banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu daripada hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’. Seorang sahabat bertanya “Apakah wahan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud)

Menurut hadist tersebut, pada akhir zaman umat Islam tidak akan berkurang, malahan akan semakin bertambah banyak jumlah (kuantitas). Namun, dilihat dari kualitas iman dan Islam mereka, nilainya tak lebih daripada nol besar. Dalam artian mereka hanya menyandang status sebagai Islam saja tetapi hatinya tidak Islam. Mereka begitu amat mencintai urusan duniawi. Saking cintanya pada urusan duniawi, akhirnya muncul penyakit hati, yakni takut mati karena takut meninggalkan urusan dunia.

Itulah beberapa dari sekian banyak ramalan Rasulullah SAW tentang akhir zaman yang kini sudah jadi kenyataan. Instropeksi dan perbaikilah diri kita sendiri. Tanya ke dalam hati kita, apakah secara lahir dan batin, kita sudah Islam atau tidak? Mari kita kembali meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT.

Yuk Simak 6 Kekhawatiran ALi Bin Abi Thalib Yang Menjadi Kenyataan Saat ini

Ali bin Abi Thalib adalah keponakan juga menantu Nabi Muhammad SAW yang merupakan khalifah rasyid yang keempat.

Ali Bin Abi Thalib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama. Beliau juga pernah menjabat sebagai salah seorang khalifah pada tahun 656 sampai 661.


Beliau merupakan salah satu sahabat yang dijamin oleh Allah akan masuk surga.

“Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Albani).


Ali bin Abi Thalib mengatakan,

ูˆَุงู„َّุฐِู‰ ูَู„َู‚َ ุงู„ْุญَุจَّุฉَ ูˆَุจَุฑَุฃَ ุงู„ู†َّุณَู…َุฉَ ุฅِู†َّู‡ُ ู„َุนَู‡ْุฏُ ุงู„ู†َّุจِู‰ِّ ุงู„ุฃُู…ِّู‰ِّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฅِู„َู‰َّ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ูŠُุญِุจَّู†ِู‰ ุฅِู„ุงَّ ู…ُุคْู…ِู†ٌ ูˆَู„ุงَ ูŠُุจْุบِุถَู†ِู‰ ุฅِู„ุงَّ ู…ُู†َุงูِู‚ٌ

"Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 249)

Beliau diberi gelar babul ilmu (pintunya ilmu) oleh Rasullullah, karena setiap perkataan Ali bin Abi Thalib akan selalu jadi renungan bagi kita semua.

Berikut adalah 6 kekhawatiran Ali bin Abi Thalib yang menjadi kenyataan saat ini. Menurut buku Biografi Ali bin Abi Thalib karangan Prof. Ali Muhammad, perkataan beliau patut kita renungkan dengan seksama.

1. Banyak orang baik tapi tak berakal

Kebaikan itu harus dilakukan dengan sepenuh hati dan semata-mata hanya untuk mendapatkan pahala dari Allah bukan karena ingin dipuji dari orang lain atau ingin disanjung.

Kenyataannya saat ini tak sedikit orang yang berlaku baik tapi hatinya dipenuhi dengan kemunafikan. Kebaikan yang dilakukannya kerap hanya sekedar untuk memperoleh penilaian baik dari orang lain, bukan dari Allah SWT.

2. Banyak orang bodoh tidak tahu diri

Semua sudah mengenal Islam, tapi masih banyak yang tersesat dalam kejahiliyahan atau kebodohan. Semua tahu tentang perintah dan larangan Allah, tapi banyak yang melalaikannya dan berbuat dosa seenaknya. Saat melakukan dosa, tidak ada perasaan bersalah sama sekali dan justru merasa bangga dengan perbuatannya.

3. Banyak orang fasih berbicara tapi perbuatannya lalai

Akan datang masa di mana ada banyak orang yang berbicaranya fasih, terdengar sangat bijak dan inspiratif, namun perkataan dan perbuatannya berbanding terbalik. Perbuatannya tidak mencerminkan apa yang dikatakannya.

Dia berbicara soal kebaikan, tetapi perbuatannya sama sekali tidak baik. Dia sangat suka mengumbar janji manis, tapi tidak pernah menepati janjinya. Dia banyak berbicara soal Islam, tapi dia sendiri banyak melanggar aturan Islam.

4. Keimanan hanya ada dalam pikiran bukan sanubari


Saat ini banyak orang yang keimanannya hanya ada dalam pikiran saja, tapi dalam hatinya tidak ada sama sekali untuk meyakini akan kebenaran Allah SWT.

Mereka terlalu sibuk mencari ilmu hingga melalaikan kebersihan hatinya.

5. Ada pelacur menjadi publik figur

Pelacur di sini bukan berarti wanita sewaan yah gaes, maksudnya adalah orang-orang yang suka menggadaikan akidah dan agamanya hanya untuk kepentingan pribadinya.

Demi mendapatkan keuntungan materi dunia, mereka rela menjual agamanya dengan berbohong mengatasnamakan agama Allah.

Apapun akan mereka lakukan demi mendapatkan tahta meski harus kehilangan syahadat dalam hati nuraninya. Paling mirisnya lagi orang seperti itu malah jadi publik figur dan begitu disegani oleh banyak orang.

6. Ada ulama tapi tak memberikan tauladan yang baik

Banyak ulama dan ahli agama yang begitu fasih dalam berbicara soal Islam. Mereka hafal semua ilmu agama namu mereka sombong dengan ilmu yang dimilikinya dan merasa yang paling benar hanya karena hafal semua ilmu agama.

Tapi perbuatannya tidak menunjukan akhlak dan tauladan yang baik, justru mereka banyak menyesatkan seluruh umat.

Perkataan Ali bin Abi Thalib diatas dapat kita renungkan dengan melihat keadaan di zaman now.

DUNIA KESEHATAN

DUNIA ISLAM